RESENSI NOVEL 12 MENIT, KEYAKINAN DAN KEBERANIAN UNTUK MENGGAPAI IMPIAN DAN HARAPAN

Image

RESENSI NOVEL 12 MENIT

JUDUL BUKU            :  12 MENIT

PENULIS                   :  OKA AURORA

PENERBIT                 :  NOURA BOOKS, JAKARTA

CETAKAN                 :  I , MEI 2013

TEBAL BUKU            :  XIV + 348 Halaman

ISBN                         :  9786027816336

HARGA                     :  Rp 54.000,-

RESENSOR              :  WIEN INA KUMALA

KEYAKINAN DAN KEBERANIAN UNTUK MENGGAPAI IMPIAN DAN HARAPAN

Vincero! Teriakan keras yang menggema hingga mampu menggetarkan hati siapa saja. “Saya akan menang!”. Siapa manusia di dunia ini yang tidak memiliki impian dan harapan. Setiap manusia memilikinya. Sayangnya ada harga yang harus dibayar untuk meraih impian dan harapan. Kerja keras, kerja pintar, doa dan yang terpenting adalah keyakinan pada diri sendiri untuk berani bermimpi dan mewujudkannya.

“Perjuangan terberat dalam hidup manusia adalah perjuangan mengalahkan diri sendiri”. Salah satu kutipan pembuka dalam novel 12 Menit karya Oka Aurora, seorang Ibu kelahiran Jakarta, 19 Juli 1974. Satu kutipan yang bisa jadi adalah ruhnya novel ini. Siapa sangka, novel yang diadaptasi dari skenario film dengan judul yang sama karya Oka Aurora mampu menghipnotis pembaca dari awal hingga lembar terakhir.

12 Menit, novel berlatarkan Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, novel pertama Oka Aurora yang telah diramunya menjadi sajian bacaan yang tidak hanya menampilkan dramatisasi konflik tokoh-tokohnya, tetapi juga menyajikan cerita yang penuh motivasi dan menginspirasi. Keyakinan dan keberanian yang telah apik disampaikan melalui Rene, Elaine, Tara dan juga Lahang. Tokoh-tokoh dalam novel 12 Menit yang telah membuat novel ini semakin hidup.

Menjadi anggota tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim tidaklah hanya dibutuhkan kemauan dan bakat dalam bermusik. Ketahanan, ketabahan dan keuletan menjadi kunci utama bagi 120-an anggota tim tersebut (halaman 3). Bahkan pengorbanan yang terbilang mahal untuk sekedar menjadi tim inti Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Begitulah yang dirasakan anggota cadet band, istilah untuk para calon anggota. Satu tahun, atau bahkan dua tahun, menjadi waktu yang wajar untuk sekedar latihan baris-berbaris dan latihan dasar-dasar bermusik.

Melalui tokoh Rene, seorang pelatih Marching Band Bontang Pupuk Kaltim yang tegas dan profesional. Oka Aurora ingin menampilkan bahwa seorang pelatih yang membawahi 120-an anggota marching band dengan beragam karakter dan latar belakang, dibutuhkan perjuangan yang besar dan pantang menyerah. Rene, lulusan sekolah musik di Amerika, yang juga mantan anggota marching band berskala internasional, Phantom Regiment. Pelatih yang telah berpengalaman mengantarkan tim Marching Band Ibu kota menjadi juara umum tiga tahun berturut-turut dalam GPMB (Grand Prix Marching Band), perhelatan tahunan akbar marching band seluruh Indonesia. Akan tetapi, keyakinan Rene sempat memudar ketika Ia melihat betapa berbedanya anak-anak Bontang dengan murid-muridnya di Jakarta. Satu permasalahan mendasar yang menjadi kebimbangan hatinya untuk membawa Marching Band Bontang Pupuk Kaltim menuju kancah nasional GPMB, adalah minimnya kepercayaan diri anak-anak Bontang. Bukan tidak mungkin bahwa siapa saja berhak menang, sekalipun mereka berasal dari pelosok negeri yang jauh dari hingar bingar Ibu kota. Itulah yang akhirnya menjadi janji Rene, “saya akan membuat marching band ini jadi juara umum di GPMB tahun ini” (halaman 14).

Permasalahan demi permasalahan terus dihadapi Rene. Beruntung karakter Rene yang keras kepala dan pantang menyerah mampu mengatasi satu persatu rintangan yang Ia hadapi. Tapi sayangnya pembawaan Rene yang tegas dan keras hampir saja menyebabkan Ia kehilangan salah satu timnya. Tara, gadis pendiam yang memiliki keterbatasan pendengaran. Trauma masa lalunya membuat Tara menjadi gadis pemurung yang sensitif. Meski pada akhirnya Tara sadar, mimpinya lebih berarti untuk diperjuangkan.

Tidak hanya itu, Rene juga berhadapan dengan salah satu orang tua yang melarang keras anak semata wayangnya bergabung dengan tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, alih-alih lebih mementingkan prestasi akademik. Elaine, seorang Field Commander Marching Band Bontang Pupuk Kaltim, gadis keturunan Jepang yang lama tinggal di kota metropolitan. Kepindahannya ke Bontang mengikuti jejak Ayahnya, Josuke. Puncak kemarahan Ayah Elaine adalah ketika Elaine tidak memberitahu perihal keputusannya melepas Olimpiade Fisika dan lebih memilih Marching Band. Berkat kelembutan hati Ibu Elaine dan keteguhan hati Elaine, pada akhirnya Josuke luluh dan membebaskan putrinya untuk mewujudkan impiannya yang akan membuat Elaine bahagia.

Rene juga diuji kesabarannya ketika menghadapi permasalahan Lahang, anak semata wayang dari pemuka adat suku Dayak. Lahang dihadapkan pada dilema yang menghimpit kekurangan dan keterbatasannya. Perjuangan menempuh jarak berkilo-kilo meter untuk bisa ikut latihan marching band sebagai penari. Itulah tiket satu-satunya untuk bisa ke Jakarta, menembus dunia luar. Impiannya adalah melihat Tugu Monas. Tugu ini mewakili seluruh impian Ibunya yang telah meninggal lima tahun silam.”Kalau kau bisa bermimpi sampai di tugu ini, kau bisa bermimpi sampai ke tugu-tugu lain di dunia” (halaman 295). Akan tetapi, Lahang juga dihadapkan pada situasi sulit yang menggoyahkan langkahnya menggapai impiannya. Perjuangannya melawan ketakutan akan penyakit yang diderita Ayahnya, kanker otak. Pada akhirnya ucapan Ayah Lahang benar-benar menjadi cambuk untuk Lahang menggapai cita-citanya. “Berapapun waktu yang diberikan, tak seharusnya dihabiskan dengan ketakutan. Karena ketakutan, Anakku, tak akan pernah menyambung hidupmu. Yang akan menyambung hidupmu, hanya keberanian” (halaman104).

Perjuangan, kegigihan, dan pengorbanan yang telah dilakukan anggota Marching Band Bontang Pupuk Kaltim patut dijadikan teladan. Beribu-ribu jam mereka perjuangkan demi 12 menit menampilkan karya terbaik mereka. Istora Senayan Jakarta menjadi saksi segala peluh kerja keras Rene dan Tim Marching Band Bontang Pupuk Kaltim. Akhirnya peluh mereka terbayar dengan senyum terkembang dan kebanggaan akan kepercayaan bahwa “we are the champions”.

Kelebihan novel ini adalah mengajarkan generasi muda bangsa Indonesia untuk berani bermimpi, bekerja keras, bekerja pintar dan pantang menyerah. Tidak ada keberuntungan yang serba kilat. Yang ada adalah keberuntungan tercipta karena adanya dominasi kerja keras dan hadirnya kesempatan di waktu yang tepat.

Akhirnya Novel 12 Menit karya Oka Aurora menjadi salah satu karya anak bangsa yang patut dinikmati oleh semua generasi. Terkhusus untuk mereka yang selalu berani bermimpi dan gigih untuk mewujudkannya. Bermimpilah, percayalah, kemudian teriakkan VINCERO!

“Think Like A Champion, and Fight Like One” (halaman 305) oleh Oka Aurora.

Resensi ini diikutkan dalam Lomba Menulis Resensi Novel 12 Menit oleh Penerbit Nourabooks

sumber: www.noura.mizan.com

img-20130518-wa0003

 

Kenangan, Cinta dan Harapan yang Terangkum dalam Sewindu

Image

Judul Buku      : Sewindu (Cinta Itu tentang Waktu)

Penulis         : Tasaro GK

Penerbit        : Penerbit Tiga Serangkai, http://www.tigaserangkai.com

Tebal Buku      : 382 halaman

Cetakan         : Pertama

Tahun Terbit   : Maret 2013

Peresensi       : Wien Ina Kumala / Lilin Impian Harapan

Bahwa cinta adalah tentang waktu, begitu Tasaro GK memaknai dan menghikmahi cinta dalam buku barunya, Sewindu. Serpihan-serpihan mozaik yang telah teramu apik dalam kurun waktu delapan tahun kehidupan penulis dengan nama asli Taufik Saptoto Rohadi bersama sang Istri, Alit Tuti Marta . Sebuah buku cinta yang tidak melulu membahas tentang romantisme cinta tapi lebih kepada hakekat cinta yang seutuhnya. Dituturkan dengan narasi yang mengalir, penggabungan berbagai episode perjalanan hidup penulis yang saling bersinergi dan mengilhami hingga Ia terbentuk menjadi lelaki yang sesungguhnya.

Tasaro GK, satu diantara nama-nama penulis muda Indonesia yang setia dengan jiwa kepenulisannya. Penulis kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta, 1 September 1980 ini, mengawali karir kepenulisan sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Penulis yang juga telah menelorkan berbagai karyanya dalam daftar perbukuan Indonesia. Sebut saja Wandu: Berhentilah Menjadi Pengecut!, Samitha, Di Serambi Makkah, Galaksi Kinanthi, Rindu Purnama, Seri Pitaloka, Oh, Achiles!, Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad: Para Pengeja Hujan, Nibiru dan Ksatria Atlantis, Keajaiban Rezeki, Sewindu (buku ini) dan berbagai karya yang lain. Penulis yang terbilang berani membongkar rahasia rumah tangganya sebagai perwujudan cinta yang suci lewat kata-kata sederhana tetapi sarat makna. Sewindu, persembahan buku barunya untuk istri tercintanya.

            Sewindu, bermula dari keputusan Tasaro untuk menikahi gadis Cirebon, sang pujaan hatinya. Selayaknya lelaki yang akan menikah, kematangan secara finansial adalah hal paling utama yang menjadi prioritas dalam membangun rumah tangga. Bagaimana keluarga muda itu nantinya akan tinggal, dan bagaimana pula menjalani hari-hari biduk rumah tangganya. Agaknya, hal itu yang luput dipikirkan oleh Tasaro muda. Berbekal niat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Tasaro berkeyakinan bahwa pernikahan akan selalu membuka pintu-pintu rezeki dari berbagai arah, sekalipun tidak pernah diperhitungkan.  Tentu saja setelah disertai dengan usaha dan kerja keras yang maksimal.

Menjalani usia pernikahan yang masih terbilang muda, Tasaro banyak belajar tentang riak-riak kehidupan dalam setiap episode cintanya bersama sang istri. Kesederhanaan dan kebersahajaannya dalam mengelola kehidupan rumah tangganya, yang jauh dari kata foya-ria. Peran istri yang begitu ikhlas dan mampu mengungkapkan dalam diamnya kepada Tasaro bahwa cinta memang sederhana. Juga Pemahaman Tasaro yang mendalam tentang eksistensi seorang istri bagi dirinya, suami yang bekerja, sedangkan istri yang hanya ibu rumah tangga. Bagaimana awalnya Tasaro berpikir bahwa istri lebih membutuhkan suami daripada sebaliknya. Tapi kenyataannya, Tasaro sebagai suamilah yang paling membutuhkan istri sebagai penopang semangat disaat suka maupun duka. Sebuah bentuk peringatan kecil Tuhan kepada Tasaro disaat istri tidak berada di sampingnya. Kangen begitulah Ia merasakannya. Serta tidak dipungkiri dengan kejujuran akan kesabarannya dalam penantian menimang buah cinta pernikahan yang tak kunjung datang. Senandika Himada dan Pairidaeza Pawestri. Hei Tasaro! kau telah menjadi lelaki sesungguhnya.

Meresapi kisah penuh warna Tasaro dalam Sewindu memang akan berbeda saat kita membaca karya Tasaro sebelumnya yang mengedepankan imajinasi dan ruang khayal pembacanya. Sewindu, kisah nyata Tasaro dalam menghikmahi cinta. Cinta yang ia bagi tidak hanya bersama istri dan anak-anaknya tetapi juga dengan tetangganya, persahabatannya yang tidak sedikit membentuk kepribadiannya dan juga dengan keluarga besarnya. Bapak dan Ibundanya tercinta. Meresapi kata demi kata dari setiap dialog Tasaro dengan dirinya sendiri bagaikan menyeret pembaca pada pusaran waktu Tasaro dalam menjalani kehidupannya. Jujur, jenaka dan apa adanya. Begitulah Tasaro yang terkadang romantis tapi tetap realistis.

Sewindu, tidak saja berbincang tentang cinta yang horisontal. Tasaro dengan jujur mengakui cinta tertingginya kepada Tuhan dan Baginda Rasululloh SAW saat dia berani mencelupkan dirinya ke dalam konsep syariat Islam yang total. Menyingkirkan rasa malu, Tasaro ikut mengaji bersama sang ustadz untuk belajar melafalkan huruf hijaiyyah, mempraktekkannya dalam membaca Al Qur’an (meski terkadang masih belepotan) dan upaya memperbaiki bacaan sholatnya. Sungguh-sungguh, Tasaro mampu melaluinya.

Pada akhirnya Sewindu menjadi salah satu bentuk curahan hati atau barangkali proses kreatif penulis dalam menghasilkan karya-karyanya. Tidak sedikit karya-karyanya yang memang memiliki keterikatan batin yang kuat  dengan kehidupan nyata Tasaro sendiri. Selain juga curahan hati tentang mimpi-mimpi Tasaro dan istri akan Kampoeng Boekoe, mimpi warga panorama. Satu atau dua ayunan langkah maju asalkan jangan sampai berhenti. Pada akhirnya ketekunan dan kesabaran akan indah pada waktunya. Semoga.

Dan begitulah Sewindu menjadi obat rindu bagi para penggemar karya Tasaro GK dan penikmat sastra pada umumnya. Sederhana dan selalu menginspirasi. Semoga ternikmati.

            Sebab, mencintai pada tingkat yang solid adalah komitmen. Terkadang, rasa terombang-ambing dan membuat bimbang. Ada waktunya kata-kata mesra sudah terkunci dan sulit dikeluarkan lagi. Namun ketika komitmen itu terjaga, keinginan untuk membangun kehidupan yang berarti terus dijalani. Itulah cinta. (Hal. 379)

*)Resensi ini diikursertakan dalamLomba Resensi Buku Sewindu Karya TASARO GK yang diselenggarakan oleh PENERBIT TIGA SERANGKAI, Solo.

Sumber: http://www.tigaserangkai.com/artikel/issue-and-event/300-lomba-resensi-buku-sewindu-karya-tasaro-gk.html

Image

Reflection (Part 1)

20

Today is the day I should be more grateful to God. God remind me again about the word “Focus on”. Yeah, my problem from the beginning until now is about be focused in one goal!

I admitted that I had never succeed in finishing my goal. I had failed in facing the problem. And I always gave up before fighting. There are so many excuses from me when I had lost the chance. And I have many more reasons for that. Whereas, those reasons are bullshit. Indeed, I am the looser one.

Right now, I am standing here with any regret from the past memory. I am so weak. I need a light to wake my soul up. I need an energy to strengthen my spirit. I need all. All is from you.

In this moment again, I should give bigger thankful for God. God had created you for me. You are my real sunshine. I should not make any regret again. I should wake up. I would proof it that I could make you happy. Forever, I always love you my Husband. . .

Lovely Home, our white house

Kebumen, April 21th 2013, 00:25

 17

danbo__s_graduation_day_by_bry5-d3c70sq

Working Mother Indonesia Magazine

Working Mother Indonesia, as Lilin calls WMI, is one of the best mother magazine. But in my perspective WMI is the best magz for working Mom. Highly recommended Magazine!🙂

First of all, I would like to introduce this magz. WMI is firstly published on December 2012. In this first issue, WMI gave a lovely agenda. I really love it. Even, I bought this magz two times. One for me,and the second one is for my best friend, Zara-Jakarta (http://zarafirsty.wordpress.com) in the Zara’s Birthday moment.

Here the cover of the lovely Agenda from Working Mother Indonesia, First Issue. It is quite simple but still seem eye-catching.

working-mom-poster

There was never any question with meas to which I would choose, my family or my work. I had to have both.

(Rheta Childe Dorr)

Wow, this quotation seems popping out from my mind. Family and work are different aspects, but both of them can be integrated to create a happy life.

Until now April 2013, WMI has been published four times. The content of this Magz is full of substantial info. Each issue have characteristic and special discussion about working mother starting from in the morning until at night. There are many info about fashion, beauty, healthiness, delicious meal, and also career woman and education.
In my opinion, this magz is the complete one. Besides its price only Rp.19.800,-. It’s quite cheap magazine, isn’t it?

Overall, I recommend this magazine for you all. Not only for career woman, or married woman, but also for girl who want to prepare and build a happy family and success in working. *talk to my self/ LOL

798331_547910218566599_560055624_o - Copy

841061_547910528566568_711323606_o - Copy

893131_571182299572724_1405466360_o - Copy

559054_583384185019202_1418254377_n

Rooftop Happiness in My Lovely Solo

April, 19th 2013, 10:10

For more info about Working Mother Indonesianull

The skill of wr…

The skill of writing is to create a context in which other people can think.

-EDWIN SCHLOSSBERG-

Lilin needs to learn more and more for enhancing writing skill. As we know, writing is not simple thing. Writing is not only about creating some words to be a sentence. Writing is more than creating meaning. So that people who read this writing can think based on the context and also supported by someone’s bakground knowledge.

Learning Korean (Just an Introduction)

Image

Truly, Lilin was interested about Korean since Junior High School. Nevertheless, I had some problems, especially to the media source. Indeed, there was no internet network in my little hometown. In that time, Internet network was only spreading in a big city. So I didn’t reallly know about Korean-Pop or Korean-drama more info. I only knew a little info about Korean by reading “Tabloid Bintang” or Fantasi Teen”. I remembered that the two first drama of Korean that I watched in Television is Endless Love and Winter Sonata. I really love them.

Besides Korean, Lilin also liked Taiwan Drama (Meteor Garden, MV lovers, At the Dophin Bay, Snow Angel, etc) and Dorama Japan (Itazura na Kiss). How remember, previously I am so fanatic person!

As the time goes by, Korean become more popular when I am as university student. As we know, Korean wave or Hallyu ( 한류) increases in the popularity of South Korean entertainment and culture beginning in the 1990s in Asia, and more recently, in other parts of the world.
I was interested in Korean not only in Korean-Drama or Korean-Pop (music and dance) but also in Korean culture especially for the language (Hangeul). Some months ago, I tried to learn Korean Language started from how to write korean (Hangeul). Because of I don’t parctice a lot, finally I forget the alphabet of Korean. I also still have problem with the pronunciation of Korean. How poor am!

The good news is starting from now, I am trying again to learn Korean. How to write Korean and then how to make Korean sentences for daily life. Certainly, I should know more about Korean vocabulary and the pronunciation. Yeah, I need the more effort to learn Korean although in this time I am also still finishing my last project “Thesis of English Department”.

Here, my first introduction learning for Korean (Hangeul/ 한글).

Korean Alphabet

Image

or this one.

Image

I hope the next part I can practice better. Fighting Lilin!🙂

Rooftop Happiness in my Lovely Solo

April, 18th 2013 . 17:52