Kenangan, Cinta dan Harapan yang Terangkum dalam Sewindu

Image

Judul Buku      : Sewindu (Cinta Itu tentang Waktu)

Penulis         : Tasaro GK

Penerbit        : Penerbit Tiga Serangkai, http://www.tigaserangkai.com

Tebal Buku      : 382 halaman

Cetakan         : Pertama

Tahun Terbit   : Maret 2013

Peresensi       : Wien Ina Kumala / Lilin Impian Harapan

Bahwa cinta adalah tentang waktu, begitu Tasaro GK memaknai dan menghikmahi cinta dalam buku barunya, Sewindu. Serpihan-serpihan mozaik yang telah teramu apik dalam kurun waktu delapan tahun kehidupan penulis dengan nama asli Taufik Saptoto Rohadi bersama sang Istri, Alit Tuti Marta . Sebuah buku cinta yang tidak melulu membahas tentang romantisme cinta tapi lebih kepada hakekat cinta yang seutuhnya. Dituturkan dengan narasi yang mengalir, penggabungan berbagai episode perjalanan hidup penulis yang saling bersinergi dan mengilhami hingga Ia terbentuk menjadi lelaki yang sesungguhnya.

Tasaro GK, satu diantara nama-nama penulis muda Indonesia yang setia dengan jiwa kepenulisannya. Penulis kelahiran Gunung Kidul, Yogyakarta, 1 September 1980 ini, mengawali karir kepenulisan sebagai wartawan Jawa Pos Grup selama lima tahun (2000-2003 di Radar Bogor, 2003-2005 di Radar Bandung). Penulis yang juga telah menelorkan berbagai karyanya dalam daftar perbukuan Indonesia. Sebut saja Wandu: Berhentilah Menjadi Pengecut!, Samitha, Di Serambi Makkah, Galaksi Kinanthi, Rindu Purnama, Seri Pitaloka, Oh, Achiles!, Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan, Muhammad: Para Pengeja Hujan, Nibiru dan Ksatria Atlantis, Keajaiban Rezeki, Sewindu (buku ini) dan berbagai karya yang lain. Penulis yang terbilang berani membongkar rahasia rumah tangganya sebagai perwujudan cinta yang suci lewat kata-kata sederhana tetapi sarat makna. Sewindu, persembahan buku barunya untuk istri tercintanya.

            Sewindu, bermula dari keputusan Tasaro untuk menikahi gadis Cirebon, sang pujaan hatinya. Selayaknya lelaki yang akan menikah, kematangan secara finansial adalah hal paling utama yang menjadi prioritas dalam membangun rumah tangga. Bagaimana keluarga muda itu nantinya akan tinggal, dan bagaimana pula menjalani hari-hari biduk rumah tangganya. Agaknya, hal itu yang luput dipikirkan oleh Tasaro muda. Berbekal niat mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Tasaro berkeyakinan bahwa pernikahan akan selalu membuka pintu-pintu rezeki dari berbagai arah, sekalipun tidak pernah diperhitungkan.  Tentu saja setelah disertai dengan usaha dan kerja keras yang maksimal.

Menjalani usia pernikahan yang masih terbilang muda, Tasaro banyak belajar tentang riak-riak kehidupan dalam setiap episode cintanya bersama sang istri. Kesederhanaan dan kebersahajaannya dalam mengelola kehidupan rumah tangganya, yang jauh dari kata foya-ria. Peran istri yang begitu ikhlas dan mampu mengungkapkan dalam diamnya kepada Tasaro bahwa cinta memang sederhana. Juga Pemahaman Tasaro yang mendalam tentang eksistensi seorang istri bagi dirinya, suami yang bekerja, sedangkan istri yang hanya ibu rumah tangga. Bagaimana awalnya Tasaro berpikir bahwa istri lebih membutuhkan suami daripada sebaliknya. Tapi kenyataannya, Tasaro sebagai suamilah yang paling membutuhkan istri sebagai penopang semangat disaat suka maupun duka. Sebuah bentuk peringatan kecil Tuhan kepada Tasaro disaat istri tidak berada di sampingnya. Kangen begitulah Ia merasakannya. Serta tidak dipungkiri dengan kejujuran akan kesabarannya dalam penantian menimang buah cinta pernikahan yang tak kunjung datang. Senandika Himada dan Pairidaeza Pawestri. Hei Tasaro! kau telah menjadi lelaki sesungguhnya.

Meresapi kisah penuh warna Tasaro dalam Sewindu memang akan berbeda saat kita membaca karya Tasaro sebelumnya yang mengedepankan imajinasi dan ruang khayal pembacanya. Sewindu, kisah nyata Tasaro dalam menghikmahi cinta. Cinta yang ia bagi tidak hanya bersama istri dan anak-anaknya tetapi juga dengan tetangganya, persahabatannya yang tidak sedikit membentuk kepribadiannya dan juga dengan keluarga besarnya. Bapak dan Ibundanya tercinta. Meresapi kata demi kata dari setiap dialog Tasaro dengan dirinya sendiri bagaikan menyeret pembaca pada pusaran waktu Tasaro dalam menjalani kehidupannya. Jujur, jenaka dan apa adanya. Begitulah Tasaro yang terkadang romantis tapi tetap realistis.

Sewindu, tidak saja berbincang tentang cinta yang horisontal. Tasaro dengan jujur mengakui cinta tertingginya kepada Tuhan dan Baginda Rasululloh SAW saat dia berani mencelupkan dirinya ke dalam konsep syariat Islam yang total. Menyingkirkan rasa malu, Tasaro ikut mengaji bersama sang ustadz untuk belajar melafalkan huruf hijaiyyah, mempraktekkannya dalam membaca Al Qur’an (meski terkadang masih belepotan) dan upaya memperbaiki bacaan sholatnya. Sungguh-sungguh, Tasaro mampu melaluinya.

Pada akhirnya Sewindu menjadi salah satu bentuk curahan hati atau barangkali proses kreatif penulis dalam menghasilkan karya-karyanya. Tidak sedikit karya-karyanya yang memang memiliki keterikatan batin yang kuat  dengan kehidupan nyata Tasaro sendiri. Selain juga curahan hati tentang mimpi-mimpi Tasaro dan istri akan Kampoeng Boekoe, mimpi warga panorama. Satu atau dua ayunan langkah maju asalkan jangan sampai berhenti. Pada akhirnya ketekunan dan kesabaran akan indah pada waktunya. Semoga.

Dan begitulah Sewindu menjadi obat rindu bagi para penggemar karya Tasaro GK dan penikmat sastra pada umumnya. Sederhana dan selalu menginspirasi. Semoga ternikmati.

            Sebab, mencintai pada tingkat yang solid adalah komitmen. Terkadang, rasa terombang-ambing dan membuat bimbang. Ada waktunya kata-kata mesra sudah terkunci dan sulit dikeluarkan lagi. Namun ketika komitmen itu terjaga, keinginan untuk membangun kehidupan yang berarti terus dijalani. Itulah cinta. (Hal. 379)

*)Resensi ini diikursertakan dalamLomba Resensi Buku Sewindu Karya TASARO GK yang diselenggarakan oleh PENERBIT TIGA SERANGKAI, Solo.

Sumber: http://www.tigaserangkai.com/artikel/issue-and-event/300-lomba-resensi-buku-sewindu-karya-tasaro-gk.html

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s